Feeds:
Posts
Comments

553 Lima Jenis Bodhicitta (Bagian Ketiga)

 

Oleh : Grandmaster Shengyen-Lu

Sumber : Mahasiddhi Cahaya Pelangi, Dharmadesana tanggal 24 Oktober 1997

 

——————————————————————————————————–

Kita membahas lima jenis bodhicitta.

 

Bodhicitta pertama, disebut sumpah bodhicitta, juga merupakan membangkitkan ikrar. Bodhicitta kedua, disebut menjalankan bodhicitta. Setelah membangkitkan ikrar, anda harus menjalankan, yaitu harus dipraktikkan, bersungguh-sungguh melatih diri. Bodhicitta yang ketiga disebut dengan bodhicitta paramattha, yang ini lebih rumit untuk dijelaskan.

Dari kelima jenis bodhicitta, bodhicitta yang ketiga disebut dengan bodhicitta paramattha. Di dalam Tantrayana, sering disebutkan mengenai “cahaya cemerlang kebajikan unggul (paramatthajotika)”. Ini maksudnya adalah anda telah membangkitkan ikrar, dan juga telah melaksanakannya. Namun di dalamnya terkandung makna yang lebih dalam, lebih mendalam, yaitu anda telah melaksanakannya, namun tidak berharap, tidak mengharapkan balasan apapun. Malahan setelah melakukannya, seluruhnya dileburkan ke dalam sifat sunya. Ini adalah poin yang lebih susah, inilah yang disebut dengan bodhicitta paramattha. Juga berarti berdana namun tidak mengharapkan balas jasa, secara total melaksanakan ikrar secara alamiah tanpa paksaan. Jenis bodhicitta ini dinamakan bodhicitta paramattha.

Ini merupakan poin yang agak rumit. Ada sebagian orang, setelah melakukan sesuatu, ia mengharapkan orang lain akan memujinya, jika tidak, dia tidak akan melakukannya. Setelah melakukan perbuatan bajik, tercantum di dalam koran, ia akan sangat gembira. Sebelum diterbitkan dalam koran, setiap hari ia menelepon kantor surat kabar menanyakan, “Kenapa masih belum diterbitkan?”

Mengharapkan mendapatkan penghargaan, melakukan kebajikan jenis apapun, ada hadiahnya, ataupun ada mendapatkan penghargaan. Oleh dikarenakan sudah mendapatkan sangat banyak perbuatan bajik, setiap jenis kebajikan yang saya perbuat, saya mencatatnya. Setelah dicatat, dikirimkan kepada acara penghargaan yang paling bergengsi, seperti Nobel, ataupun mendaftarkan untuk dapat menerima penghargaan di acara manapun, ataupun di acara pemberian penghargaan perdamaian.

Oleh karena anda telah membangkitkan ikrar, melakukan perbuatan bajik. Anda telah melakukan sangat banyak perbuatan bajik, semuanya dicatat, di saat sudah terakumulasi sangat banyak, kemudian dikirimkan ke acara penghargaan, sehingga mendapatkan titel penghargaan.

Sebagian orang, bodhicitta paramatthanya yang seperti apa? Adalah sudah melakukan, lantas mengembalikannya kepada tiada, di sinilah letak kerumitannya. Inilah yang dinamakan dengan “paramattha”, terkandung suatu makna yang sangat unggul di dalamnya. Juga berarti bahwa apa yang anda ikrarkan, apa yang anda lakukan, seluruhnya dikembalikan kepada angkasa, ini lebih tinggi tingkatannya.

Agama Buddha mengajarkan kepada kita, kehidupan manusia adalah ilusi, merupakan sebuah mimpi, merupakan sebuah sandiwara. Keseluruhan “kekosongan dari tiga wujud perputaran” yaitu tiada penderma, tiada objek yang menerima derma, tiada objek yang didermakan, dinamakan dengan “kekosongan dari tiga wujud perputaran”.

Segala yang anda lakukan, pada dasarnya semua akan kembali kepada angkasa, masih ada apa lagi? Oleh karena itu, janganlah anda melekati perbuatanmu, ikrarmu, asalkan anda melakukan dengan segenap hati dan segenap tenaga, itu sudah benar. Ini barulah yang disebut dengan “kebajikan yang tak terhingga”. Seluruh “kebajikan yang tak terhingga”, adalah anda melakukan, anda berikrar. Namun, segalanya kembali kepada angkasa, disebut dengan “kebajikan yang tak terhingga”. “Kebajikan yang tak terhingga” yang sesungguhnya adalah yang seperti ini.

Oleh karena itu, semua yang berwujud ini, setelah anda lakukan, lantas anda mencatatnya semua, hari ini saya telah melakukan perbuatan bajik seperti ini dan itu. Besok anda mencatatnya lagi, segala kebajikan yang telah anda perbuat. Kelak anda berkata, “Saya telah melakukan sebegitu banyak perbuatan bajik, mengapa masih belum mendapatkan pembalasan yang baik?” Ini tidaklah sesuai dengan bodhicitta paramattha.

Ada banyak orang bertanya kepada Mahaguru Lu, “Bagaimanakah Aliran Tantra Satya Buddha kelak?” Saya hanya menjawab delapan patah kata, “Berusaha melakukan segenap tenaga, biarkan berjalan secara alamiah”. Kita melakukan perbuatan bajik, juga sama. Berusaha melakukan segenap tenaga, biarkan berjalan secara alamiah, tidak mengharapkan balasan apapun, segalanya sangatlah alamiah.

Saya sering menuliskan “keberhasilan melakukan kebajikan bak sungai pasir mimpi”, inilah bodhicitta paramattha.

Juga ada yang bertanya pada saya, “Mahaguru Lu, anda menulis begitu banyak buku, berapa banyak buku yang ingin anda tulis?” Saya juga tidak tahu, I don’t know. Saya hanya berusaha melakukan segenap tenaga, biarkan berjalan secara alamiah.

“Anda melukis, ingin melukis sampai berapa lembar?” Lakukan dengan segenap tenaga, biarkan berjalan secara alamiah.  Hati saya kosong tiada beban, inilah wujud kemunculan bodhicitta paramattha, sehingga hatipun kosong tiada beban.

Anda ingin menjadi apa? Menjadi ketua pengurus Majelis Tantrayana Satya Buddha? Menjadi ketua umum Majelis Tantrayana Satya Buddha? Jika anda memiliki niat seperti ini, anda tidaklah memiliki bodhicitta paramattha.

Ketua pengurus Majelis Tantrayana Satya Buddha sektor RRC, ketua apa, ketua apa, semuanya saya inginkan, satu pun tidak boleh ada yang terlewatkan, karena saya yang paling banyak berbuat, tidak ada orang yang mengungguli saya, semuanya saya inginkan. Seluruh “nama” ini saya inginkan, seluruh “keuntungan” juga saya inginkan, semuanya saya raup, tidak ada bodhicitta paramattha.

Bodhicitta paramattha yang sesungguhnya adalah biarkan berjalan secara alamiah, segalanya kembali pada kebajikan bak sungai pasir mimpi, harus mampu memahami makna paramattha.

Anda memiliki bodhicitta paramattha, segala yang anda lakukan, berubah menjadi cahaya cemerlang, inilah cahaya cemerlang kebajikan unggul (paramatthajotika).

Semua yang sering saya katakan, “Segala kegiatan yayasan amal, bukanlah kebajikan. Oleh karena bukanlah kebajikan, barulah disebut dengan kebajikan.” Apakah maksud dari kalimat ini? Dua kata “para-mattha”.

Dalam Sutra Vajracheddika, dikatakan bahwa segala kebajikan bukanlah merupakan kebajikan. Oleh karena bukanlah kebajikan, barulah disebut dengan kebajikan. Dua patah kata – para-mattha.

Oleh karena itu, kita belajar Dharma, belajar Buddha, belajar Ajaran, setelah anda membangkitkan ikrar, membangkitkan sumpah bodhi, menjalankan jalan bodhi, namun anda tidak menganggapnya sebagai sebuah kebajikan. Oleh karena tidak menganggapnya sebagai sebuah kebajikan, ini barulah kebajikan. Oleh karena itulah, adalah tidak terhingga, tidak dapat terbayangkan, seluruhnya sedang menjelaskan dua kata “para-mattha” ini.

Jika anda memahaminya, maka anda akan mengetahui apa yang dimaksudkan “tidak ada kebajikan” yang dikatakan oleh Bodhidharma. “Tidak ada kebajikan”, adalah makna dari paramattha.

Kaisar Liang tidak memahami paramattha, ia hanya menjalankan ikrar, tidak memiliki paramattha.

Om Mani Padme Hum.

 

Link sumber artikel dalam bahasa mandarin :

http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=29&csid=34&id=585

 

Advertisements

By : Grand Master Liansheng Sheng-Yen Lu

Source : B231 –法王的大傳說

Image

Di masa lampau, Y.A. Atisa tiba di Jambi di Pulau Sumatra (Indonesia), dengan harapan dapat berbincang dengan Mahaguru Jinzhou.

Kedua telah tidak bersua selama dua belas tahun (atas alasan yang hanya dapat saling dipahami oleh keduanya).

Belakangan, mereka bertemu di sebuah acara perjamuan Sangha.

Y.A. Atisa segera melakukan mahanamaskara hingga lima bagian tubuh menyentuh tanah menghadap Mahaguru Jinzhou.

Mahaguru Jinzhou menggunakan tangan kanan menyentuh ubun-ubun Y.A. Atisa dan melantunkan ‘Syair Paripurna’.

Mahaguru Jinzhou bertanya, “Berhasilkah mempelajari bodhicitta maitri-karuna? Bisakah bertahan dalam dua belas tahun ini?”

Y.A. Atisa menjawab, “Bisa.”

Mahaguru Jinzhou menghadiahi pratima Sakyamuni Buddha yang paling lama dipujanya kepada Y.A. Atisa dan berkata, “Saya memberikan vyakarana padamu, kelak kamu akan menjadi pemimpin sebuah aliran.”

Di kemudian hari, Y.A. Atisa mendirikan sekte ‘Kadampa’.

Setelah kejadian itu, Y.A. Atisa benar-benar berguru kepada pengalaman selama dua belas tahun.

Mahaguru Jinzhou mengajarkan Y.A. Atisa :

  1. Abhisamayālamkāra nāma prajnāpāramitopadeśa śāstra
  2. Siksasamucaya
  3. Bodhisattvacharyavatara
  4. Melatih sadhana bertukar raga
  5. Tujuh bodhicitta

……

Demikianlah total dua belas tahun, menuntaskan mempelajari seluruh ajaran, terutama tiga kebijaksanaan, empat perbuatan, dan satu hasil dalam Abhisamayālamkāra nāma prajnāpāramitopadeśa śāstra, kesemuanya ditransmisikan tanpa ada yang dirahasiakan kepada Y.A. Atisa.

Y.A. Atisa berguru kepada pengalaman selama dua belas tahun, menuntaskan seluruh pembelajarannya, dan oleh sebab itu menghormati Mahaguru Jinzhou dengan penghormatan yang tiada bandingannya.

Saat Y.A. Atisa meninggalkan Mahaguru Jinzhou, beliau berkata, “Selama hidup ini, telah menerima ajaran yang begitu besar dari Mahaguru Jinzhou, merupakan budi terunggul, selamanya akan dijunjung di ubun-ubun.”

Tidak perduli apakah Y.A. Atisa sedang berada di India maupun di Tibet, asalkan mendengar ada orang yang menyebut nama Mahaguru Jinzhou, beliau pasti beranjali di ubun-ubunnya sendiri, mengumandangkan gatha pujian empat kata mengagungkan Guru luhurnya, setelah itu barulah berani mengucapkan nama Mahaguru Jinzhou.

Orang yang menyaksikannya bertanya, “Y.A. Atisa, anda pernah bersujud pada sangat banyak guru, mengapa anda sangat menghormati Mahaguru Jinzhou hingga se-spesial itu? Bagaimana dengan guru yang lain? Apakah ada perbedaan?”

Y.A. Atisa menjawab, “Guru Silsilah saya sangatlah banyak, kebanyakan di antaranya merupakan mahasiddha, jalan kebenaran mereka tidaklah ada perbedaan. Akan tetapi, di tempat Mahaguru Jinzhou, saya mendapatkan bodhicitta langka yang sangat mendalam, ini hanya dapat diperoleh melalui lautan pahala kebajikan dari Mahaguru Jinzhou, perbedaannya ada di dalam budi silsilah!”

Y.A. Atisa menyarankan para sadhaka :

“Jadilah orang yang tahu budi dan tahu membalas budi, jangan pernah mempelajari menggunakan benda tajam! Setelah belajar sedikit, sudah merasa dirinya sangat hebat, budi Guru luhurnya dilupakan secara tuntas tak bersisa. Lebih lanjut, malah mulai memarahi gurunya sendiri, memfitnah dan menjelek-jelekkan gurunya sendiri, orang seperti ini lebih rendah dibandingkan dengan orang awam, lebih rendah daripada hewan, bersiaplah turun ke Neraka Vajra!”

Y.A. Atisa berkata, “Tantrayana menitikberatkan di pemberian Silsilah dari Guru Silsilah, jika tidak mendapatkan silsilah resmi dan pengajaran dari Gurunya, belajar sendiri dari buku, rasanya seperti menggerogoti lilin.”

Sajak :

Semua orang mengetahui “Lima puluh Syair Abdi Guru”

Sungguh disayangkan, manusia zaman sekarang tidak begitu menghormatinya

Meremehkannya

Lantas bagaimana Guru bisa membabarkan apa yang dibutuhkan oleh hati

Tidak mencapai keberhasilan bersadhana

Hanya sesumbar

Karena pada dasarnya tidak paham menghormati Guru Luhur

——————————————————————————————————————-

阿底峽事師十二年 文 / 聖尊蓮生活佛

若干世前,阿底峽尊者到了蘇門答臘島的占碑,欲參訪金洲大師。
兩人十二個月未見面。(互審其器之故)
後來,在一次供養會中,見到了。
阿底峽尊者,馬上趨前向金洲大師行五體投地的大禮拜。
金洲大師用右手置尊者頂,誦:
〈吉祥頌〉 。
金洲大師問:
「能學慈悲菩提心耶?能住此十二年耶?」
阿底峽答:
「能。」
金洲大師將自己供奉最久的釋迦牟尼像,賜贈尊者,說:「我授記你,將來必成一教之主。」
阿底峽尊者後來創「噶當派」。

接著阿底峽尊者真的事師十二年之久。
金洲大師教阿底峽尊者:
一、《現觀莊嚴論》。
二、《集菩薩學論》。
三、《入菩薩行論》。
四、修自他互換法。
五、七菩提心。
……。

如此共十二年,盡學一切的教授,尤其《現觀莊嚴論》的「三智」 、 「四行」、「一果」,全部毫無保留的傳給阿底峽尊者。
阿底峽事師十二年,盡其所學,而且事奉金洲大師,無比的恭敬。
當阿底峽尊者離開金洲大師時,說:
「這一生,承金洲大師教誨至大,是第一具恩,永為自己的頂飾。」

阿底峽尊者不管在天竺或西藏,只要聽到有人提到金洲大師,他必合掌於自己頭頂,以四句頌讚揚自己的恩師,隨後才敢稱金洲大師之名。
見者問:
「阿底峽尊者,你禮拜過很多的師父,為何你對金洲大師如此的恭敬,而其他的師父呢?難道有差別嗎?」
尊者回答:
「我的傳承師父甚多,多是大成就者,道行是毫無差別的。但是我在金洲大師處,得了甚深稀有的菩提心,這是由金洲大師之恩澤才獲得的,這是承恩有別啊!」
阿底峽尊者曾勸修行人:
「做人要知恩報恩,千萬不要學劣法器,學了點滴,自己以為了不起,把自己師恩忘得一乾二淨。接著,反而罵起自己的師父,毀謗自己師父,這些人比俗人還不如,比禽獸還不如,只好下金剛地獄了!」
阿底峽尊者說:
「密教重在師承的教授,若無師承口授,白己看書,味同齧蠟。」
詩:
人人均知《事師法五十頌》
可惜今人沒有這麼尊重
輕忽了

師父又如何能傳心要

修法修不成
只有叮叮
因為根本不懂得師恩

蓮生活佛著作 盧勝彥文集 第231冊「法王的大傳說」


By               : Grand Master Sheng-Yen Lu

Source        : B171 – 玻璃缸裡的金魚

Image

Akhir-akhir ini saya membaca buku Zen. Ada sebuah kisah sebagai berikut :

Di zaman Dinasti Song, ada seorang Guru Zen. Di masa mudanya sebelum ia meninggalkan keduniawian, ia pernah minum arak bersama seorang teman. Setelah minum-minum, mereka pun bertengkar untuk memperebutkan harta benda, dan pertengkaran berkembang menjadi perkelahian. Begitu lepas kendali, ia memukul temannya. Tak disangka, temannya tewas seketika.

Takut dihukum, ia segera berkemas seadanya dan kabur ke tempat yang sangat jauh.

Belakangan, ia memasuki sebuah vihara, mengangkat guru dan belajar Buddha Dharma, dan menjadi biksu. Ia bertobat dengan cara menjalankan kehidupan bhavana yang penuh penderitaan. Akhirnya, Guru Zen memahami hatinya sendiri, menyaksikan Buddhata, mencapai maha pencerahan, dan menjadi seorang Guru Besar Zen. Ia pun mulai membabarkan Dharma dan menyeberangkan insan. Muridnya berjumlah ratusan ribu.

Saat Guru Zen memasuki usia 70 tahun, di suatu pagi yang tak terduga, setelah mandi ia pun duduk di dharmasana. Pada hari itu, ia tidak membabarkan Dharma, malah memberitahu para umat, “Kalian jangan bergerak, jangan berbicara. Harap tenang mendengarkan suatu kasus yang telah dilakukan oleh Biksu Tua ini 40 tahun silam.”

Guru Zen duduk tak bergeming.

Para umat yang datang mendengarkan Dharma menjadi kebingungan, semuanya duduk dengan tertib dan siap mendengarkan.

Setelah duduk beberapa lama, seorang prajurit tiba-tiba mendatangi vihara Zen tersebut, memasang busur dan panah ingin membunuh Guru Zen tua.

Guru Zen beranjali pada prajurit tersebut dan berkata, “Biksu tua menunggu anda di sini!”

Prajurit tersebut sangat kebingungan, “Saya dan anda tidak saling mengenal. Namun, begitu bertemu dengan anda, saya ingin sekali segera melesatkan panah membunuh anda. Ada apa gerangan?”

Guru Zen tua berkata, “Berhutang maka harus membayar, melakukan pertukaran dengan adil, terdapat karma sebab-akibat di dalamnya. Silahkan anda turun tangan!”

Guru Zen tua berkata pada muridnya, “Setelah kematian saya, kalian tidak boleh menyalahkan dirinya, malahan harus mentraktirnya makan dan mengantarnya pulang ke rumah. Jika kalian menyalahkannya, berarti kalian tidak mematuhi Guru dan melawan Langit, bukan murid saya!”

Para murid kebingungan.

Prajurit itu juga menjadi tidak yakin, ia pun meminta Guru Zen tua memberikan penjelasan.

Guru Zen tua menjelaskan kejadian lampau di saat masih muda. Setelah menjelaskan semuanya, Guru Zen tua pun berkata, “Anda lupa karena telah terlahirkan di kehidupan yang berbeda. Saya masih berada di kehidupan yang sama, sehingga saya masih ingat.”

Prajurit ini mendadak memahami sesuatu setelah selesai mendengarkan. Ia berkata, “Kapankah akan berakhir jika terus-menerus saling membalas dendam, berkalpa-kalpa saling mengganggu dalam setiap kesempatan.” Prajurit tercerahkan, dan seketika itu ia meninggal dalam posisi berdiri. Guru Zen turun dari dharmasana, mencukurkan rambut prajurit tersebut, memberikan nama Dharma baginya, dan menguburkannya.

Guru Zen tua itu sendiri juga kemudian duduk bersila, berpamitan pada khalayak, dan parinirvana dalam posisi duduk bersila.

Setelah membaca artikel ini, hati saya sangat tersentuh. Saya menghimbau para insan :

Lepaskan kebencian dan jangan mendendam.

Akhirilah seluruh jodoh buruk!

Alamat website daftar buku mandarin Grand Master Sheng-Yen Lu :

http://www.tbsn.org/chinese2/booklist.php
Alamat website Tantrayana Satya Buddha:
http://www.tbsn.org/

http://tbworld.org/
——————————————————–

蓮生活佛/文

近期讀禪書,有一則如下:

宋朝有一位禪師,年輕未出家前,曾經與友人飲酒,酒後與友人爭奪財物,便由吵架演成打鬥,一失手,竟然把友人打死了,當場斃命死亡。

禪師畏罪,便簡單收拾,逃到了很遠的地方去了。
後來他進入寺院,拜師學佛,懺悔而出家勤苦修持,終於禪師明了自心,見了佛性,大澈大悟,成為一名大禪師,開始弘法度眾,徒眾有百千萬。
禪師七十歲的時候,忽然有一天早晨,他沐浴之後就陞座,那天他沒有說法,卻告訴大眾說:「你們不要動,不要說話,靜看老僧了卻四十年前的一椿公案。」

禪師坐著不動。

大眾聽法的,卻茫茫然,安靜的坐著。

坐了一陣子,有一位士兵突然來到禪寺,扳起弓箭,就想射殺老禪師。

老禪師向士兵合掌,說:「老僧在此等候您呢!」
士兵很驚奇:「我與你和尚素不相識,但,一見你和尚,就想一箭把你射死,這是何故?」
老禪師說:「欠債還錢,公平交易,有因果在,你就下手吧!」
老禪師對弟子又說:「我死之後,你們不得責怪他,甚至請他吃飯,送他回家。如果責怪,便是逆師違天,不是我的弟子!」
弟子茫然。

士兵也疑惑,士兵請老禪師說個明白。
老禪師說明,昔日年輕時的事,一一說了,老禪師又說:「你因隔世投胎,你才會忘記,我尚在世,所以記得。」
這位士兵,聽了,略有所悟,說:「怨怨相報何時了,劫劫相纏豈偶然。」士兵一悟,立即站立往生。禪師下座,為士兵落髮,取法名,放入龕中。
老禪師自己也跏趺而坐,向大家告別,坐化。

我看了此文,心頗感動,我奉勸人:
解冤勿怨。
化掉一切惡緣吧!

恭錄自蓮生活佛盧勝彥文集171_玻璃缸裡的金魚
「讀禪書心得」159

【蓮生活佛著作】

http://www.tbsn.org/chinese2/booklist.php
【真佛資訊網路】
http://www.tbsn.org/
【真佛世界网 】
http://tbworld.org/

Image

Apa itu Catur Jhana?


by Grand Master Sheng-Yen Lu, source : B216 – Q&A from the Contemporary Dharma King

264305_335045466590855_1067572034_n

Ada yang bertanya, “Kita sebagai orang yang mempelajari Buddha Dharma sering mendengar catur jhana delapan samadhi. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan catur jhana delapan samadhi? Dan lagi, apa kegunaan catur jhana delapan samadhi? Untuk apa melatih catur jhana delapan samadhi?”

Saya menjawab :

Berdasarkan pada sutra :

Surga Rupadhatu dibagi empat jhana, yaitu jhana pertama, jhana kedua, jhana ketiga, jhana keempat.

Jhana pertama – hati suci bersih, segala kebocoran tidak bergerak.

Surga yang terdapat di jhana pertama adalah Brahmaparsadya, Brahmapurohita, Mahabrahma.

Jhana kedua – hati suci bersih, kebocoran yang kasar telah dihentikan.

Surga yang terdapat di jhana kedua adalah Parittabha, Apramanabha, Abhasvara.

Jhana ketiga – hati damai dan stabil, timbul kegiuran akan sukha.

Surga yang terdapat di jhana ketiga adalah Parittasubha, Apramanasubha, Subhakrtsna.

Jhana keempat – kelima kesadaran pertama telah lenyap, rasa sukha juga lenyap, muncul rasa merelakan.

Surga yang terdapat di jhana keempat adalah Anabhraka, Punyaprasava, Brhatphala, Asannasatta, Avrha, Atapa, Sudrsa, Sudarsana, Akanistha.

Kemudian, delapan samadhi merupakan catur jhana dari alam Rupadhatu beserta empat sunya-samadhi dari alam Arupadhatu, dijumlahkan menjadi catur jhana delapan samadhi.

Namun demikian, pengalaman saya adalah sebagai berikut :

Jhana pertama – muncul mahasukha.

Jhana kedua – muncul cahaya.

Jhana ketiga – muncul sifat Buddha.

Jhana keempat – muncul parinirvana.

Jhana pertama saya ada di surga alam Kammadhatu.

Jhana kedua saya ada di surga alam Rupadhatu.

Jhana ketiga saya ada di surga alam Arupadhatu.

Jhana keempat saya ada di alam Catur Arya.

Oleh karena itu, catur jhana saya, telah mencakupi catur jhana delapan samadhi, dari alam Kammadhatu hingga alam Catur Arya. Ini hanyalah pengalaman pribadi saya, percaya atau tidak percaya terserah anda, saya benar-benar mengalami seperti itu.

Catur jhana delapan samadhi, kegunaannya apa?

Setiap orang mengetahui kegunaannya, yaitu mampu membersihkan satu-persatu benih kebiasaan kita dari sejak zaman tak berawal, juga sama dengan mandi, membersihkan satu-persatu dukkha duniawi.

Saya angkat sebuah contoh :

Kita memperoleh bongkahan campuran bijih emas dan batuan pengotor. Kita mempergunakan teknik pemisahan emas, sehingga bijih emas tertinggal, dan pengotor lainnya menjadi larut.

Ini adalah kegunaan dari catur jhana delapan samadhi.

Melatih catur jhana dan delapan samadhi dapat mengembalikan diri kita ke jati diri kita yang sebenarnya, sehingga menyaksikan Buddhata kita sendiri.

Ada yang beranggapan bahwa catur jhana delapan samadhi hanyalah salah satu cara, bukan satu-satunya cara.

Namun, di kehidupan zaman sekarang, selain cara catur jhana delapan samadhi, sudah tidak ada lagi cara lain yang lebih baik.

Buddha Dharma adalah Buddha Dharma.

Mencapai kebuddhaan adalah mencapai kebuddhaan.

Bahkan pada akhirnya dharma juga direlakan, apalagi yang bukan dharma.

Hal ini hanya dimengerti oleh orang yang memahami hati dan menyaksikan Buddhata.

*

Fuzhou, Xianzong, Guru Zen Dongming.

Arya Sangha bertanya pada Guru Zen Dongming, “Saat hendak menggenggam awan tidak akan terlepas dari terjangan angin dan petir. Bagaimana bisa menerobos menembusi ombak?”

Guru Zen Dongming menjawab, “Buat apa berusaha berpaling dari sesuatu yang telah selesai dikejar dari dalam diri.”

(Maksud Guru Zen Dongming adalah, jika telah tercerahkan dan memahami hati, buat apa lagi menggunakan Buddha Dharma atau catur jhana delapan samadhi untuk menyucikan diri sendiri?)

Buddha adalah Buddha.

Kekal.

Tidak labil.

Buat apa berpaling dari sesuatu yang telah selesai dikejar dari dalam diri, malah masih melatih catur jhana delapan samadhi?

Ada Guru Zen yang melatih meditasi.

Ada Guru Zen yang mengasah batu bata menjadi cermin.

“Bagaimana bisa batu diasah menjadi cermin? Bagaimana bisa meditasi membuat seseorang mencapai kebuddhaan?”

Para siswa budiman, di sini saya tidak bisa membicarakannya dengan leluasa. Terhadap catur jhana delapan samadhi dan mencapai kebuddhaan, apakah kalian mempunyai pandangan dan penjelasan yang lebih baik? Coba kita diskusikan.

Biksu Misterius


Biksu Misterius

By                   : Living Buddha LianSheng (Grand Master Sheng-Yen Lu)

Source            : B228 – Unusual Past Lives of The Dharma King

Copied from    : http://www.dapinstore.com/news/read/6/biksu_misterius/

Image

Di zaman dahulu, ‘Kitab Dinasti Wei’, ‘Sejarah Dinasti Bei’, ‘Hutan Mutiara Lahan Dharma’, ‘Legenda Biksu Berpencapaian Tinggi’, …… kesemuanya memuat mengenai daya menakjubkan dari Sutra Raja Agung Avalokitesvara (Sutra Gaowang).

Di zaman awal dinasti Wei, ada seorang Buddhis yang tinggal di daerah Dingzhou bernama Sun Jingde. Ia terkena getah sebuah kasus pengadilan, dijebloskan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman penggal. Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan seorang biksu yang mengajarinya melafalkan Sutra Gaowang sebanyak seribu kali agar dapat terhindar dari kesulitan.

Sang biksu mengajarinya satu kata, ia menghafalkan satu kata, hingga akhirnya ia dapat menghafalkan keseluruhannya dengan fasih.

Saat Sun Jingde diseret ke lapangan pelaksanaan hukuman, masih tersisa beberapa kali pelafalan yang perlu diselesaikannya. Ia melafalkannya sambil menempuh perjalanan hingga akhirnya genap seribu kali pelafalan.

Saat hukuman dilaksanakan, begitu golok memenggal, golok tersebut patah menjadi dua bagian. Kulit dan dagingnya tidak terluka sama sekali.

Hukuman diulangi, golok diganti sebanyak tiga kali, semuanya juga patah.

Pejabat eksekusi kaget bukan main!

Akhirnya Sun Jingde dihadapkan kepada kaisar. Kaisar memberikan pengampunan dari hukuman mati kepadanya, dan memintanya menuliskan Sutra tersebut, agar dapat disebarluaskan.

Dari peristiwa inilah, sejak Dinasti Bei, Sutra Raja Agung Avalokitesvara ini akhirnya tersebar luas, menjadi ‘Sutra yang dibabarkan oleh Biksu via petunjuk mimpi’ yang sangat dihormati oleh insan di dunia, yaitu “Sutra Raja Agung Avalokitesvara”.

Image

Juga :

‘Biografi Konfusius’ dari Wei Utara dan juga ‘Biografi Lutong’ mencatat ada seorang bernama Lu Jingyu.

Lu Jingyu sangat relijius, suka meneliti buku Sutra, menjadi pejabat dan mendapat gelar kehormatan sebagai Profesor negara.

Namun, kakaknya, Lu Zhongli terlibat dalam pencetusan kerusuhan. Gerakan huru-hara Lu Zhongli diredam oleh Raja Qi Xianwu dari Dinasti Bei.

Lu Jingyu terkena getahnya dan dikurung dalam penjara Jinyang.

Lu Jingyu menjapa Sutra Gaowang, menjapa hingga borgolnya terlepas dengan sendirinya. Sipir penjara menukarkannya dengan borgol lain, dan borgol tersebut pun terlepas lagi dengan sendirinya. Ditukar lagi, terlepas lagi.

Para petugas penjara kaget bukan main.

Setelah Raja Qi Xianwu mendengar kabar tersebut, ia pun segera tahu bahwa Lu Jingyu tidak bersalah, sehingga mengampuninya.

Di kemudian hari, Lu Jingyu naik jabatan menjadi pejabat tinggi.

Juga :

Ada seorang pejabat bernama Hongsen dijatuhi hukuman mati, juga bermimpi didatangi seorang biksu yang mengajarkannya menjapa Sutra Raja Agung Avalokitesvara kata per kata. Setelah terbangun dari mimpi, setiap kata tersebut dapat diingat dengan sangat jelas. Ia pun menjapa sebanyak seribu kali.

Saat waktu pelaksanaan hukuman, begitu golok diayunkan, goloknya putus. Kepala dan lehernya sama sekali tidak ada luka sedikitpun.

Pejabat yang menangani pelaksanaan hukuman ini akhirnya melaporkannya kepada Raja Qi Xianwu.

Akhirnya Hongsen juga mendapatkan pengampunan.

Sejak saat itu, Sutra Raja Agung Avalokitesvara ini menjadi sangat tenar di dunia, banyaknya yukta yang ditimbulkannya sudah tidak terhitung.

Sutra ini adalah “Sutra yang dibabarkan dari dalam mimpi”.

Tidak terdaftar di dalam Sutra Mahayana.

Namun, Sutra tersebut keseluruhannya berisikan nama Buddha Bodhisattva.

Ada banyak nama agung Avalokitesvara Bodhisattva di dalamnya.

Ada ratusan juta kumpulan Buddha Vajra.

Ada ratusan juta Bodhisattva gunung ratna yang suci menyejukkan.

Ada tujuh Buddha masa lampau, ribuan Buddha kalpa mulia.

(Ini sudah mencakupi nama seluruh Buddha Bodhisattva.)

Di saat yang bersamaan, yang paling penting adalah :

“Mampu membinasakan penderitaan kelahiran dan kematian, mengikis dan menyingkirkan seluruh racun dan marabahaya.”

Saya sendiri menyadari bahwa, buku Sutra Raja Agung Avalokitesvara Bodhisattva ini bukanlah Sutra yang remeh, yang paling penting di dalamnya adalah ‘Mantra Tujuh Buddha Pelenyap Karma Buruk’, ini adalah Sutra yang paling dianjurkan untuk dibaca!

Tantrayana Satya Buddha menjunjung tinggi Sutra Gaowang. Para murid tidak berhenti menjapakannya, setiap orang mendapatkan yukta maha takjub.

Terlebih lagi murid Tantrayana Satya Buddha, setiap orang mempersemayamkan pratima Raja Agung Avalokitesvara Bodhisattva, setiap orang berubah menjadi Avalokitesvara di rumah.

Ada yang bertanya, “Mengapa dalam Tantrayana Satya Buddha, ada Raja Agung Avalokitesvara di rumah setiap murid?”

Saya menjawab, “Karena merupakan Sutra saya.”

“Mengapa bisa anda?”

Saya menjawab, “Orang yang membabarkan Sutra ini di dalam mimpi, kalau bukan saya, siapa?”

Bakmi di Dalam Parit


By                    : Living Buddha LianSheng (Grand Master Sheng-Yen Lu)
Source             : B228 法王的大轉世 – Unusual Past Lives of The Dharma King
 
            Di kehidupan yang lampau, saya pernah menjadi seorang pelajar yang miskin. Tetangga rumahku adalah rumah berdinding tinggi yang dihuni oleh seorang saudagar yang kaya raya. Di malam hari, saya membaca buku dengan memegang lilin, kehidupan saya sangatlah menderita. Sebaliknya, saudagar kaya tersebut memiliki banyak istri dan gundik, pembantunya berbondong-bondong, hidupnya berkelimpahan, bepergian dengan kereta tandu dan kuda tampan, rumahnya senantiasa dihiasi tarian dan nyanyian.
 
            Pakaian yang saya kenakan adalah kain yang sudah ditambal berkali-kali. Sedangkan, pembantu rumahnya mengenakan pakaian yang jauh lebih bagus daripada yang saya kenakan.
 
            Suatu hari, saya menyadari bahwa ada suatu benda panjang seperti tali mengalir di parit dalam rumah saya. Begitu dikail, ternyata merupakan bakmi yang beruntai-untai. Saya berpikir, jika bakmi ini dibiarkan terbuang mengalir begitu saja, sungguh sangat disayangkan.
 
            Ternyata parit rumah saudagar kaya terhubung dengan parit rumah pelajar miskin, makanan yang terbuang dari saluran pembuangan di dapur rumahnya mengalir masuk ke parit di dalam rumah saya. Saya mengumpulkan berkah makanan berlebih ini dengan sebuah jala.
 
            Semakin banyak yang dia buang, semakin banyak yang saya peroleh.
Setelah dicuci bersih, bakmi ini masih dapat dimakan. Bakmi yang tersisa dijemur hingga kering dan disimpan di tempat yang bersih di dalam gudang, kemudian ditaburkan garam agar tidak membusuk.
 
            Saudagar kaya terlalu boros, ditambah lagi bisnisnya mengalami kegagalan, seluruh istri dan gundiknya pergi meninggalkannya. Ditambah lagi adanya perkara di pengadilan, dalam waktu beberapa tahun yang singkat saja, rumah tetangga yang berdinding tinggi telah berganti pemiliknya. Pemilik terdahulunya tak disangka telah menjadi pengemis di jalanan, sungguh kehidupan manusia itu anitya adanya.
 
            Pada suatu tahun, terjadi bencana kelaparan. Kemarau melanda, seluruh petani gagal panen. Di mana-mana bergelimpangan pengemis, penduduk yang kelaparan semakin lama semakin banyak.
 
            Saya sebagai pelajar miskin yang hidup sederhana hanya bertahan hidup dengan stok makanan saya. Saya mengeluarkan semua makanan yang memenuhi gudang saya, membagikannya kepada orang-orang yang menderita kelaparan. Semua warga yang kelaparan sangat girang. Saudagar kaya yang telah menjadi pengemis tersebut adalah salah satu di antara mereka.
 
            Ia bertanya, “Bagaimana kamu bisa memiliki makanan yang begitu lezat seperti ini?”
 
            Saya menjawab, “Ini adalah makanan dari rumah anda!”
 
            Saudagar kaya tidak paham, “Makanan dari rumah saya?”
 
            Saya menunjuk menyusuri jalan keluar parit rumah saudagar kaya tersebut hingga ke parit di rumah saya, saudagar kaya ini barulah mengerti dan mendesah, “Pantas saja, keluarga saya memang patut bangkrut!”
 
            Saudagar kaya tersebut sangat malu dan segera berlalu.
 
            Makanan sisa yang saya simpan menghasilkan kegunaan yang besar dalam bencana kelaparan di tahun itu, banyak warga yang kelaparan tertolong karenanya.
 
            Saya bermimpi bertemu dengan Dewa Dapur, Beliau berkata, “Anda telah melakukan dua hal yang besar!”
 
            Saya menjawab, “Hal yang mana?”
 
            Dewa Dapur menjawab, “Langit sudah tahu. Hidup sederhana merupakan hal yang pertama, menolong warga yang kelaparan adalah hal yang kedua.”
 
            Dewa Dapur berkata lagi, “Orang-orang kelaparan yang ada di sekeliling anda, kelak akan menjadi pembawa keberuntungan bagi anda, mereka akan dapat membantu anda. Selain itu, hidup sederhana akan menjadi kebiasaan anda, anda tidak akan sembarangan menghamburkan uang!”
 
            “Kalau begitu, selamanya saya akan miskin!”
 
            Dewa Dapur menjawab, “Jika tidak, hemat pangkal kaya, anda akan puas.”
 
            Perkataan Dewa Dapur menjadi kenyataan di kehidupanku yang mendatang. Di kehidupanku kali ini, saya hidup dengan sangat hemat, tidak sembarang menghamburkan uang. Saya tidak pelit, asalkan ada bencana alam yang membahayakan manusia, saya juga tetap membantu insan yang butuh pertolongan melalui materi dan tenaga.
 
            Saya dapat berhemat, ini merupakan hasil timbunan dari masa lampau.
 
            Saya suka membantu insan, juga merupakan timbunan dari masa lampau.
 
            Ini benar-benar adalah : rahasia, rahasia, rahasia.

Semangat Kaisar Yu


By                   : Living Buddha LianSheng (Grand Master Sheng-Yen Lu)
Source            : B228 – Unusual Past Lives of The Dharma King
 
            Di kehidupan saya yang lampau, ada seseorang yang meneliti sifat dan perilaku dari air, penelitiannya sangatlah menyeluruh.
 
            Orang yang sangat berbakat ini dapat dikatakan benar-benar mampu memahami sifat air.
 
            Oh, air! Ia dapat mengalir ke timur, barat, selatan, utara, sama sekali tidak kaku.
 
            Oh, air! Ia tidak melekati yang bagaimanakah yang baik, yang bagaimanakah yang buruk. Seperti memiliki aturan, juga seperti tidak memiliki aturan, hanya bergerak secara alamiah menuruti alam saja.
 
            Oh, air! Mampu menutupi jutaan makhluk hidup, juga mampu mengapungkan jutaan makhluk hidup. Laozi paling menyukainya, karena ia paling dekat dengan ‘Tao’.
 
            Oh, air! Kelihatannya sangat lemah lembut, sebenarnya tidak juga. Saat didorong dan dipukul, tenaganya sangat kuat, tidak ada orang yang sanggup menahannya. Lemah lembutkah? Ataukah sekuat baja? Perubahannya tidak dapat diprediksi!
 
            Oh, air! Tidak mengenal depan, belakang, mandiri tanpa rombongan, seperti angin yang bebas berkelana, juga seperti bulu menari di tengah udara.
Mampu bergerak.
 
            Juga mampu berdiam.
 
            Oh, air! Benda yang tidak memiliki persepsi.
 
            ……
 
            Setelah Kaisar Yu meneliti air, ia akhirnya memahami cara kerja air, tidak dapat dibendung. Ada orang yang mengira bahwa aliran air dapat dikeruk, sebenarnya juga tidak menggunakan pengerukan seluruhnya. Aliran air yang kecil dapat dibendung, aliran air yang besar hanya dapat dikeruk, seperti halnya Sungai Yangtze, Sungai Kuning, dan sungai besar lainnya hanya dapat dikeruk alirannya. Sisanya, cabang sungai yang kecil dapat dibendung. Saya memberitahu khalayak pembaca, bagi yang mengetahui kebaikan dari air, barulah mengetahui cara untuk menolong insan!
 
            Cara ini, barulah mampu menjangkau empat sisi sembilan arah.
 
            Semangat Kaisar Yu sangatlah patut diacungi jempol. Kegagalan dari tiga pendahulunya tidak mematahkan semangatnya, malahan ia dengan tangannya sendiri memegang bambu dan cangkul, menggali tanah untuk membuat saluran sungai dan kali untuk sistem pengairan di negerinya. Tiga ratus sungai besar,  tiga ribu kali kecil, semuanya dikerjakan setiap hari tanpa henti.
 
            Ia lelah hingga wajahnya dan matanya menghitam.
 
            Hanya tersisa dua bola matanya yang berbinar-binar.
 
            Paha dan betisnya kurus kering.
 
            Tangannya menjadi kapalan.
 
            Rambutnya tidak digunting, dibiarkan rontok secara alami.
 
            Diguyur hujan deras.
 
            Melawan badai.
 
            Diterpa terik matahari!
 
            Diterpa musim salju!
 
            Diterpa musim panas!
 
            Berapa tahun menggali saluran air, meskipun dirinya sedang sakit juga tetap giat bekerja.
 
            Kaisar Yu dihormati berjuta negara, demi apa?
 
            Shun menyerahkan kedudukannya kepada Yu.
 
            Sebenarnya, Yu tidak menginginkan kedudukan ini. Hanya saja para penduduk di saat itu berseru-seru menginginkan dia!
 
            Semangat Kaisar Yu, di dalam seluruh hidupnya, sangat besar, seperti hujan yang basah menutupi seluruh daratan.
 
            (Saya dalam kehidupan yang saat ini, setiap subuh selalu menulis artikel, tidak pernah absen sehari pun. Tidak pernah libur, bahkan di hari Sabtu dan Minggu juga tidak terkecuali. Saya telah menulis selama empat puluhan tahun, semangat apakah ini? Tetap saja, warisan semangat dari Kaisar Yu. Pelatihan diri saya juga sama, sehingga saya menjuluki diri saya Lelaki Tua yang Bodoh. Menulis artikel dan bersadhana sudah memenuhi kehidupan sehari-hariku.)
 
            Semangat Kaisar Yu.
 
            Semangat saya.
 
            Siapa yang bisa melampauinya!
 
            Sebenarnya, sejak awal saya sudah mempelajari tenaga Kaisar Yu yang kokoh, saya juga bukan melakukannya demi sesuatu apapun. Saya tidak memohon apa-apa. Hanya saja, dalam setiap kehidupan dari setiap reinkarnasi saya, saya menyelaraskan diri dengan perubahan alam semesta. Saya mengerti menyesuaikan diri dengan perubahan alam semesta.
 
            Begitu memahami Tao secara menyeluruh, semuanya akan menjadi jelas, semuanya telah terpenuhi.
 
            Anda mengatakan saya adalah Kaisar Yu, saya tidak menyangkal. Anda mengatakan saya bukan Kaisar Yu, saya juga tidak menyangkal. Singkat kata, rahasia, rahasia, rahasia.
%d bloggers like this: